Tuesday, November 30, 2010

PEDULI KESEHATAN LINGKUNGAN PASCA ERUPSI MERAPI

Dalam setiap situasi, baik dalam kondisi bencana maupun kondisi normal, persoalan kesehatan menjadi perhatian penting, termasuk didalamnya adalah persoalan kesehatan lingkungan. Untuk itulah kehadiran relawan yg betul2 memahami persoalan kesehatan lingkungan dan juga mampu mengatasinya menjadi suatu keniscayaan. Kehadiran seorang sanitarian (ahli kesehatan lingkungan) di lokasi bencana/pengungsian sama pentingnya dgn kehadiran tenaga medis seperti dokter, perawat, dan lain2.

Faktor lingkungan yang tidak sehat tentu menyebabkan kondisi para pengungsi menjadi rentan terjangkit penyakit infeksi. Sampah yang berserakan dan kondisi MCK yang terbatas akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan para pengungsi. Selain itu sebagaimana kita ketahui, di sekitar Merapi juga kadang kala terjadi hujan debu. Debu ini akan menyebabkan iritasi pada mata sampai konjungtivitis dan gangguan pernafasan berupa iritasi saluran pernafasan, infeksi saluran pernafasan atas dan radang paru-paru.

Beberapa jenis kegiatan yang dapat dilakukan oleh seorang sanitarian di posko2 pengungsi antara lain :
  • pendataan survailans kesehatan lingkungan
  • pengambilan sample air
  • Pengambilan sample udara
  • Pengamatan vector
  • Pemantauan sanitasi lingkungan termasuk makanan
  • Membuat prosedur langkah yang harus dikerjakan pengungsi bila kembali ke rumah setelah berakhirnya bencana dalam hal kesehatan lingkungan.
Sebagaimana yg telah dilakukan secara rutin pada waktu awal2 tanggap Merapi di sejumlah posko pengungsian, maka pada Hari Rabu pagi, tanggal 1 Des 2010 Jurs. Kes. Lingkungan (JKL) Poltekkes Kemenkes Ykt kembali diminta mengirimkan 8 orang mhs & 1 orang dosen pendamping untuk melakukan pembersihan sumber2 air bersih dan 2 orang mhs & 1 orang dosen pendamping untuk melakukan pemberantasan vektor penyakit/ fogging untuk mencegah nyamuk demam berdarah. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara JKL Poltekkes Yogyakarta dgn Dinas Kesehatan Prop. DIY dan Dinas Kesehatan Kab. Sleman.

Bpk. Bambang Suwerda, dosen JKL penggagas Bank Sampah, tampak sedang memberikan pelatihan tentang Bank Sampah kepada para pengungsi yg sebelumnya menempati barak pengungsian di Auditorium GBH Poltekkes Ykt.

Disamping itu dalam rangka mendukung kegiatan Bank Sampah pasca mengungsi, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Ykt juga akan membantu 6 unit mesin jahit melalui JKL Poltekkes Kemenkes Ykt. Mesin jahit ini akan dimanfaatkan oleh JKL Poltekkes Kemenkes Ykt utk melatih warga masyarakat di daerah binaannya agar dpt mengolah sampah2 yg telah dipilah dan masih dpt didaur ulang menjadi berbagai produk yg bernilai ekonomi, seperti: tas/ kantong belanja, taplak meja, tikar, mainan, dll.


Referensi:

  1. http://papdi.net/berita-detail-38-kesehatan-lingkungan-pengungsian-harus-menjadi-perhatian.html
  2. http://kemahasiswaanpoltekkesjogja.blogspot.com/2010/11/mesin-jahit-untuk-pengungsi-merapi.html
  3. https://docs.google.com/leaf?id=0BxlvnLRq350aMTM4MWU4MjQtNjdjZS00ZDhkLThlMDUtYmQ0YmYyMjhkYThh&hl=en&authkey=CI20qPgP&pli=1

No comments:

Post a Comment